Palembang

Khasanah Songket Sumatera Selatan dan Pengembangannya

Kain Songket Sumatera Selatan atau lebih dikenal dengan Songket Palembang merupakan kain adat bagi masyarakat Sumatera Selatan dan digunakan sebagai simbol status sosial seseorang dalam tatanan masyarakat. Keindahan dan keunikan kain songket Palembang terletak pada detail motif yang rumit yang melalui proses panjang, dengan menggunakan alat yang begitu sederhana, yaitu Gedogan.

Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan motif-motif songket pun menjadi beragam. Perubahan tradisi dan kebiasaan, kemajuan teknologi yang berkembang di masyarakat, serta perkembangan mode, sangat mempengaruhi perkembangan motif-motif dan warna-warna kain songket saat ini. Hal ini terlihat dari munculnya kain songket berbahan dasar putih, biru, toska, hijau, hijau lumut, dll, bahkan warna-warna pastel pun ikut meramaikan perkembangan warna kain songket saat ini.

Gambar-gambar dibawah ini memperlihatkan motif-motif kain songket yang ada dipasaran saat ini.

Songket Palembang yang saat ini tersedia/ diproduksi perajin menggunakan Benang Kristal

Songket Palembang Benang Spunsilk – hasil pelatihan CTI & BNI

Apabila dibandingkan dengan kain songket zaman dahulu, warna kain songket saat ini lebih kuat, hal ini disebabkan karena adanya tambahan zat sintetis yang memberikan efek serta mengikat zat warna lebih kuat. Sedangkan jika dilihat dari motif anyamannya, kain songket yang ada dipasaran saat ini memiliki motif yang lebih sederhana dengan detail yang tidak terlalu rumit. Kebutuhan komoditas untuk memenuhi permintaan pasar menyebabkan para perajin songket mengambil motif yang lebih sederhana yang tidak memakan waktu produksi banyak. Mereka kebanyakan hanya mengejar sisi produktivitas saja, tanpa mempertimbangkan kekhasan daerah.

Selain teknik songket, produk kain Palembang juga menggunakan teknik ikat, yang dinamakan Tenun Limar. Sejak dulu dan masih berlaku dibeberapa tempat (termasuk wilayah Ogan Ilir) saat ini, penenunan tenun limar masih menggunakan gedogan. Dulunya, kain tenun limar terbuat dari benang sutera yang diikat dengan tali dari tanaman rosela, dan zat warna menggunakan pewarna alam seperti; mengkudu, kunyit, daun nila, dan lain-lain.

Tenun limar ini biasanya juga dipadukan dengan teknik songket (disebut Songket Limar), sehingga menghasilkan kain yang lebih cantik, dan harga jual lebih tinggi. Penerapan motif limar bisa diaplikasikan pada seluruh permukaan kain, sedangkan penerapan motif songket pada kain tenun limar hanya digunakan sebagai hiasan pada bagian jalur pinggiran saja atau pada bagian-bagian tertentu di tengah kain.

Gambar-gambar dibawah ini memperlihatkan beberapa motif asli kain tenun ikat Limar serta gabungan dari tenun ikat limar dan songket:

Corak-corak yang terbentuk pada Kain Limar – lama

Corak-corak yang terbentuk pada Kain Songket Limar – lama

Perkembangan kain limar pun tidak jauh berbeda dengan kain songket. Dilihat dari motif-motif kain limar yang ada saat ini lebih sederhana dibandingkan dengan motif limar zaman dulu. Penggunaan kain limar umumnya untuk sarung laki-laki yang disebut kain Tajung, di samping itu juga sarung untuk wanita yang disebut kain Blongsong. Ciri khusus untuk membedakan antara sarung untuk laki-laki dan sarung untuk wanita adalah penambahan corak berupa kotak-kotak atau garis-garis dari benang berwarna yang diterapkan pada sarung untuk laki-laki. Kain-kain tajung dan blongsong sudah banyak diproduksi dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), namun dibeberapa daerah masih ada yang dikerjakan pada alat tenun gedogan.

Kain Limar untuk blongsong menggunakan ATBM

Beberapa Contoh Kain Songket Limar yang saat ini tersedia/ diproduksi perajin

Variasi warna yang digunakan pada pembuatan kain songket limar saat ini sangat beragam, apabila pada zaman dahulu hanya menggunakan warna yang dominan seperti merah dan biru, pada saat ini para perajin lebih berani mengkomposisikan berbagai warna dalam satu lembar kain. Pengetahuan yang minim mengenai komposisi warna yang dimiliki perajin menjadikan warna-warna kain songket limar saat ini kurang terarah.

Dilihat dari proses pembuatannya, saat ini pembuatan ragam hias atau motif Limar tidak dengan cara mengikat benang pakan atau lusi dengan tali, melainkan dilakukan dengan cara coletan. Coletan ini umumnya dibubuhkan sebagai aksen pada bagian-bagian tertentu atau sudut-sudut kecil. Oleh karena itu, saat ini, dalam pembuatan kain tenun limar proses coletan atau teknik cecep menjadi proses yang dominan dan menghilangkan teknik celup ikatnya itu sendiri. Teknik cecep merupakan cara mewarnai benang dengan mengoleskan dan menekan-nekankan warna hingga rata di seluruh jalinan benang. Cara ini dilakukan dengan tujuan mempercepat pemberian warna benang dimana tidak diperlukan proses pengikatan dan pencelupan. Untuk itu, pada program pelatihan tahap 2 ini, materi akan difokuskan pada pengenalan kembali dan pelatihan pembuatan motif limar yang benar, yaitu melalui proses ikat. Penerapan teknik yang benar pada kain agar warna pada tenun limar menyerap dengan baik, dan kain tidak luntur.

Songket Palembang yang saat ini tersedia/ diproduksi perajin menggunakan Benang Kristal

Related Post

Sambas

Feb 06, 2019

Halaban Sumatera Barat

Feb 05, 2019

Garut

Feb 01, 2019

Sumba Timur

Feb 01, 2019