Halaban Sumatera Barat

Terdapat setidaknya 5 sentra tenun di Sumatera Barat, yaitu: Pandai Sikek, Silungkang, Kubang, Sungayang, dan Halaban. Cita Tenun Indonesia melakukan kerjasama dengan PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk dalam program pelatihan dan pengembangan perajin Tenun Sumatera Barat khususnya daerah Halaban.

Tenun merupakan bagian yang melekat dan mengikat pada sistem adat orang Minangkabau. Sejak berabad-abad lalu, tenun Minangkabau hadir dalam pakaian adat Raja dan Dewan Kerajaan Pagaruyung, dan terus berkembang pemakaiannya hingga saat ini.

Selain memiliki makna dan fungsi budaya dan sosial, tenun Minangkabau juga erat kaitannya dengan pemenuhan ekonomi. Silungkang dan Pandai sikek merupakan sentra tenun pertama kali yang menggiatkan tenun sebagai mata pencaharian utama di Sumatera Barat, dan menjadikan kaum perempuan memiliki kemandirian secara finansial (walaupun memang adat Minangkabau yang matrilineal telah mengangkat peran perempuan sebagai penerus keturunan dan pemegang harta pusaka).

Tenun Masyarakat Halaban

Kain tenun merupakan sebuah benda yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi masyarakat Minang. Sejak zaman kerajaan hingga saat ini, keberadaan dan penggunaan kain tenun merupakan satu atribut yang selalu digunakan dalam berbagai acara adat, salah satu yang paling utama adalah pernikahan. Dewasa ini, kain tenun selain sebagai sebuah benda kebudayaan, juga merupakan komoditas ekonomi yang cukup menjanjikan bagi pelaku usaha tenun. Beberapa yang cukup berkembang adalah Silungkang dan Pande Sikek. Namun selain dua sentra tersebut, di sumatra barat masih terdapat banyak sentra kerajinan tenun, seperti Halaban dan Kubang. Masing-masing sentra yang dijelaskan diatas ternyata memiliki keterkaitan, terutama secara ekonomi. Pande Sikek menjadi sentra distribusi, dimana banyak produksi tenun Halaban dan Silungkang dijual disana. Kemudian Silungkang menjadi penyuplai bahan baku bagi Halaban.

Industri tenun di Halaban cukup berkembang pesat, hampir setiap rumah yang ada kaum perempuannya rata-rata memiliki usaha tenun di rumahnya. Informan mengatakan, mungkin karena industri ini menjanjikan, kalau seorang anak SMP (perempuan) diajarkan menenun, maka anak tersebut akan malas sekolah karena sudah bisa menghasilkan uang dari bertenun. Industri tenun sangat diandalkan sebagai salah satu kegiatan ekonomi yang bisa meningkatkan taraf hidup keluarga dan masyarakat, sehingga hal tersebut berimbas terhadap pembagian peran yang cukup baik antara suami dan istri. Kegiatan menenun istri akan diutamakan oleh keluarga,sehingga peran istri dalam membantu kegiatan ekonomi lainnya cukup sekedarnya, yang penting tidak mengganggu aktifitas bertenun. Tradisi menenun oleh wanita telah dimulai di usia remaja, dan akan semakin giat ketika sudah menikah karena menjadi salah satu sumber pendapatan keluarga.

Menyadari pentingnya industri tenun bagi masyarakat, akhirnya para petenun berinisiatif untuk membentuk sebuah organisasi yang menaungi petenun halaban. Organisasi tersebut bernama Ikatan Tenun Halaban atau disebut ITH. ITH berdiri pada tahun 2009,dan menaungi sekitar 9 kelompok dan 3 perusahaan dengan anggota total sekitar 330-an petenun.

Kegiatan ITH sejak berdiri hingga hari saat ini cukup banyak. ITH sering bekerjasama dengan berbagai instansi untuk diadakannya pelatihan terkait industri tenun. Menurut ketua ITH, Ibu Linda, komitmen anggota terhadap ITH cukup tinggi, sehingga dalam berbagai kegiatan, komitmen peserta untuk mengikuti acara juga cukup baik. Hal tersebut juga dalam rangka membangun citra dan identitas tenun Halaban sendiri.

Khasanah Songket Minangkabau

Sumatera Barat memiliki tradisi tenun yang diperkirakan telah terjadi sejak masa kejayaan kerajaan Hindu Indonesia dimana songket dengan benang emas dahulu merupakan identitas pakaian di lingkungan kerajaan yang dipakai oleh Raja dan Permaisuri dan kalangan bangsawan. Songket Sumatera Barat adalah saksi sejarah dari sebuah perjalanan budaya kelompok-kelompok masyarakat pembuatnya dan masyarakat pemakainya. (Suwati Kartiwa, 2012).

Songket dianggap sebagai “Ratu” karena peran pentingnya sebagai pakaian dalam upacara adat maupun dalam kesehariaan. Makna-makna simbolis yang terungkap pada ragam hias songket adalah pencerminan adat istiadat, peran perempuan sebagai pembuat maupun pemakainya, serta identitas diri dan komunitas adat. Kain songket berperan menjaga tradisi dan adat istiadat matrilineal, dan menjaga keberlangsungan adat istiadat Minangkabau sepanjang masa. (Suwati Kartiwa, 2012).

Dalam komunitas adati Minangkabau, kain songket memiliki kefungsian dualistik yang timbal balik yakni fungsi spiritual dan profan. Ketimbal balikan fungsi ini menghadirkan kain-kain itu dalam bentuk atau komponen busana, sebagai penanda status dan prestise, menjadi simbol kehormatan bagi pemiliknya, baik secara pribadi maupun sebagai hadiah, penentu martabat gender, medium upacara dan lambang kekayaan. (Biranul Anas, 2012).

Pada wilayah spiritual, kain songket bukan hanya sekumpulan serat dan benang yang ditenun. Kain songket juga adalah wahana estetik, pengungkap rasa keindahan, hal yang tampak jelas pada pencorakannya yang dibuat dengan cermat dan sepenuh hati. Sebagian besar corak memiliki arti simbolik, bertolak dari falsafah hidup masyarakat Minangkabau dalam menempatkan dirinya ditengah alam semesta, sedangkan banyak pula corak yang bersifat dekoratif. Keindahan itu tidak hanya tampak dan lahir dari keanekaragaman konfigurasi, bentuk, gaya, dan pewarnaannya, tapi juga bersumber dari keragamanan teknis. (Biranul Anas, 2012).

Tenun masyarakat adat Minangkabau terikat dengan nilai-nilai agama sebagai pegangan hidup, sehingga punya kaitan erat dengan intelektual yang mengajarkan kebenaran sehingga manusia hendaknya menjadi kreatif, etika yang mengajarkan kebaikan sehingga manusia mesti menjunjung tinggi moral, dan estetika yang mengajarkan tentang nilai keindahan sebagai pendidikan rasa (raso jo pareso). Inilah salah satu bentuk pengejawantahan alur pikir dalam titik tolak untuk membuat tenun songket Minangkabau. (Ady Rosa, 2012).

Abad 14 (1340 – 1375) merupakan awal tenun songket di Ranah Minang yang banyak ditemukan di Nagari Silungkang Kota Sawahlunto, dan Nagari Pandaisikek Kabupaten Tanah Datar. Tenun di kedua wilayah ini masih terpatri dengan pola-pola tradisional sebagai pewaris masyarakat adat, dan tumbuh berkembang menjadi sumber ekonomi masyarakat. Produknya berupa pakaian kebesaran Raja dan Dewan “KERAJAAN PAGARUYUNG”, dan kebesaran Penghulu dan Dewan Istana. Periode ini yang menjadi cikal bakal lahirnya pakaian adat, sekaligus sebagai fungsi sosial dan makna budaya. (Ady Rosa, 2012).

Memasuki zaman pra kemerdekaan Indonesia, sentra tenun berkembang tidak hanya di Silungkang dan Pandaisikek, menyebar ke Kubang, Koto Gadang, Bungotanjung Pitalah, dan Sungayang. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah penghasil songket yang berkembang dan cukup besar. Dewasa ini yang masih bertahan dan mengembangkan kerajinan tenun songket yaitu daerah Pandaisikek di Padang Panjang, Kubang di Payakumbuh, Silungkang di Sawahlunto, dan Sungayang Batusangkar. (Dt. Garang, 2012).

Disamping untuk kepentingan pakaian adati, songket Sumatera Barat menjadi komoditi dagang yang sangat dicari oleh pedagang dari Cina, India, Arab, dan perdagangan antar suku di Nusantara ini. Sehingga, pengaruh dari pertukaran kain dengan daerah hubungan dagang tersebut telah memberi corak pada tenunan songket di Sumatera Barat terutama pada motif-motifnya. Perkembangan ragam hias songket sebagai pakaian adat selanjutnya lebih dipengaruhi oleh falsafah “Alam Takambang Manjadi Guru” (alam terkembang jadi guru). Alam lingkungan sekitar, adat dan seni kesusastraan yang berkembang dalam masyarakat Minangkabau mempengaruhi perkembangan motif tradisional. Sehingga songket yang dibuat mencerminkan unsur-unsur yang erat hubungannya dengan kebudayaan Minangkabau.

 

Related Post

Palembang

Apr 01, 2019

Sambas

Feb 06, 2019

Garut

Feb 01, 2019

Sumba Timur

Feb 01, 2019