Sumba Timur

Kebudayaan

Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya di tengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan Nusa Tenggara Timur sejak dahulu kala. Kepercayaan khas daerah Marapu, setengah leluhur, setengah dewa masih hidup di tengah-tengah masyarakat Sumba asli. Marapu adalah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk kepercayaan ini. Pemeluk kepercayaan ini percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu. Upacara keagamaan marapu (seperti upacara kematian dan sebagainya) selalu diikuti dengan pemotongan hewan seperti kerbau dan kuda sebagai korban sembelihan, hal itu sudah menjadi tradisi turun – temurun yang terus di jaga di Sumba. Marapu menjadi falsafah dasar bagi berbagai ungkapan budaya Sumba mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunnya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran sampai dengan pembuatan perangkat busana (kain tenun) seperti kain-kain hinggi (kain adat pria) dan lau (kain sarung wanita) serta perlengkapan perhiasan dan senjata.

Di Sumba Timur strata sosial antara kaum bangsawan (maramba), pemuka agama (kabisu) dan rakyat jelata (ata) masih berlaku, walaupun tidak setajam dimasa lalu. Dewasa ini perbedaan pada busana lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan peristiwa seperti pada pesta-pesta adat, upacara-upacara perkawinan dan kematian dimana komponen-komponen busana yang dipakai adalah buatan baru.

Perekonomian

Perekonomian penduduk Sumba Timur ini sebagian besar adalah pertanian, (termasuk peternakan), industri rumah tangga (terutama kerajinan tekstil/tenun) serta pariwisata. Industri rumah tangga di Sumba Timur didominasi kerajinan kain tenun ikat yang terdapat di hampir seluruh penjuru kabupaten. Kerajinan kain tenun ikat ini sudah terkenal sejak ratusan tahun. Ada beberapa daerah yang terkenal dengan kain tenunnya, seperti Desa Kaliuda yang terletak di Kecamatan Pahungalodu, Rindi dan Watuhadang yang terletak di kecamatan Rindiumalulu, Rambangaru yang terletak di kecamatan Pandawai dan Kelurahan Prailulu. Tenunan dari daerah ini bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan pewarnaan alam yang berkualitas tinggi dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tidak jarang ada tenunan yang lama penyelesaiannya hingga tahunan, terutama yang berasal dari Rindi, Kaliuda dan Kampung Pau.

Tenun Ikat Sumba

Tenun ikat merupakan salah satu hasil kerajinan tangan masyarakat Waingapu di kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Tenun ikat merupakan kain yang dibuat dengan teknik tenun datar. Pada dasarnya, setiap kain memiliki struktur berupa benang arah vertikal (lungsi) dan arah horisontal (pakan). Pada tenun ikat Sumba Timur, pola yang terjadi adalah dengan memberi warna pada benang lungsi sebelum ditenun dengan benang pakannya.

Membuat kain tenun ikat merupakan kebiasaan wanita Waingapu sejak ratusan tahun lalu. Hingga kini, mereka membuat kerajinan ini untuk dipakai sendiri ataupun dijual ke orang lain. Hendrik Pali, salah seorang warga Lambanapu, Waingapu menceritakan, masyarakat Waingapu pada awalnya menjadikan tenun ikat sebagai satu perlengkapan penting dalam acara adat istiadat, seperti pernikahan ataupun upacara penobatan raja. Namun setelah Indonesia menjadi Negara Republik, tidak ada perbedaan, semua dapat mengenakan kain tenun dengan berbagai motif dan jenis. Bahkan kini, tenun ikat telah menjadi bahan untuk aneka kerajinan, seperti tas, selendang, serta baju.

Kerajinan tenun dari Waingapu ini dinamakan tenun ikat karena sebelum ditenun, benang lungsi diikat hingga menjadi beberapa ikatan kemudian diberi warna mengikuti pola yang telah ditentukan. Untuk menghasilkan sehelai kain tenun ikat khas Waingapu tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk proses pewarnaan benangnya saja membutuhkan proses yang bertahap dan butuh kesabaran. Pada musim penghujan, perajin tenun biasanya memulai kegiatan dengan meng-hani benang lungsi, menggambar motif, mengikat benang serta menyiapkan bahan pewarna alam.

Pewarnaan benang pada umumnya menggunakan pewarna alam, misalnya untuk warna merah dibuat dari akar mengkudu yang dicampur dengan daun loba sedangkan untuk warna hijau dibuat dari zat hijau daun. Proses pewarnaan benang dimulai ketika musim kemarau, karena setelah dicelup warna, benang lungsi yang telah diikat itu harus dijemur di bawah terik matahari. Untuk menghasilkan satu macam warna yang bagus, paling tidak diperlukan hingga empat kali proses pencelupan dan penjemuran. . Setelah benang diberi warna, ikatan benang itu dibuka dan kumpulan benang diuraikan satu per satu kemudian dihani lagi; diatur pada bingkai kayu. Barulah proses menenun benang dimulai de ngan menambahkan benang pakan, menjadi selembar kain tenun.

Karena proses yang cukup panjang dan butuh waktu yang cukup lama itulah, tak heran jika harga kain tenun ikat khas Waingapu relatif mahal bahkan hingga mencapai jutaan rupiah.

Perajin tenun ikat di Sumba Timur umumnya menghasilkan kain dengan motif hewan dan tumbuhan, seperti udang, penyu, buaya, serta pohon andung, salah satu jenis pohon yang dapat dijumpai di daerah Sumba Timur. Hendrik Pali mengatakan motif tenun ikat di Sumba Timur memiliki ciri khas tersendiri dan bagi warga Waingapu, setiap motif itu memiliki arti, misalnya penyu dan buaya merupakan lambang keagungan dan kebesaran dari seorang raja.

Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar kain hinggi untuk pria dan lau untuk wanita. Berikut adalah Busana adat pria dan wanita di Sumba Timur.

Gambar: Benang lungsi setelah selesai tahap pewarnaan, siap untuk ditenun

A. Busana Adat Pria

Dewasa ini busana masyarakat Sumba cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian daripada hirarki status sosial. Namun masih ada perbedaan-perbedaan kecil. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata, walaupun komponen serta penampilan keseluruhannya sama.

Busana pria Sumba terdiri atas bagian-bagian penutup kepala, penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam. Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kaworu atau kadang-kadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap.

Di kepala dililitkan tiara patang, sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul ini dapat diletakkan di depan, samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud perlambang yang ingin dikemukakan.

Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan muti salak. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki, namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Kabiala adalah lambang kejantanan, muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan, keperkasaan serta budi baik seseorang.

B. Busana Adat Wanita

Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu, lau pahudu, lau mutikau dan lau pahudu kiku. Kain-kain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung.

Di kepala dipasang tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan hiduhai atau hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga, sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher, menjurai ke bagian dada.

Related Post

Palembang

Apr 01, 2019

Sambas

Feb 06, 2019

Halaban Sumatera Barat

Feb 05, 2019

Garut

Feb 01, 2019