Sambas

Kabupaten Sambas adalah salah satu daerah tingkat II di Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah 6.395,70 km2 atau 639.570 ha (4,36% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat), dan merupakan wilayah Kabupaten yang terletak pada bagian pantai barat paling utara dari wilayah propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas yang terbentuk sekarang ini adalah hasil pemekaran Kabupaten pada tahun 2000. Sebelumnya, pada tahun 1960, wilayah Kabupaten Sambas meliputi Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang. Penetapan wilayah tersebut berdasarkan pada bekas wilayah Kekuasaan Kesultanan Sambas. Penduduk Kabupaten Sambas berdasarkan data kantor pendaftaran penduduk dan catatan sipil Kabupaten Sambas tahun 2005, jumlah penduduk Kabupaten Sambas berjumlah 494.531 jiwa terdiri dari penduduk lakilaki 246.787 jiwa, dan penduduk perempuan 247.744 jiwa, dengan kepadatan rata-rata 77,32 jiwa/km2. Masyarakat di Kab. Sambas sebagian besar adalah Suku Melayu Sambas, dan hanya sebagian kecil adalah Suku Dayak dan Suku Cina Hakka.

Kabupaten Sambas memiliki beberapa kecamatan, antara lain Kecamatan Sambas yang merupakan Ibukota dari Kabupaten Sambas dan secara geografis terletak hampir di tengah-tengah wilayah Kabupaten Sambas. Perkembangan kota ini berawal dari pusat Kesultanan Sambas yang dahulu berada di persimpangan alur Sungai Sambas Kecil dan Sungai Teberau. Kecamatan Sambas yang sering dimaksud oleh penduduk adalah kabupaten sebagai Kota Sambas, yang juga berslogan “Kota Sambas Terigas”. Sambas yang dikenal sekarang merupakan kota pusat pemerintahan Kesultanan Sambas, yang  berpusat di Istana Alwatzikoebillah, Dalam Kaum. Salah satu peninggalan dari Kesultanan ini adalah Tenun Songket.

Sejarah Tenun Sambas

Salah satu kerajinan tangan dengan menggunakan alat tradisional adalah Tenun Songket. Disebut songket karena dalam pembuatan kain melalui proses menyongket, yaitu proses memindahkan atau menyalin motif kain dari pola atau sujibilang ke benang lungsi, dengan menggunakan alat songketan yang terbuat dari bulu landak. Setiap kain yang dibuat melalui proses menyongket menggunakan benang emas atau perak pada motif kainnya. Dalam proses pembuatan kain melalui proses menenun yaitu menyatukan benang pakan dan benang lungsi yang disebut gigi suri, berbentuk seperti sisir terbuat dari kulit enau atau kulit bemban.

Tenun Songket Sambas atau yang lebih akrab disebut Tenun Sambas, sebagaimana namanya, merupakan hasil kerajinan tangan dari masyarakat melayu Sambas, Kalimantan Barat. Pada dasarnya, Sambas memiliki dua macam tenunan, yaitu, Tenun Ikat atau Kain Cual, dan Songket yang menggunakan benang emas, atau bisa juga disebut Kain Lunggi. Tetapi, saat ini orang lebih mengenalnya dengan Tenun Songket Sambas. Kain Cual pun sudah dimodifikasi dengan pemakaian benang emas, sehingga kain cual menjadi motif dasar/ lungsi dari Tenun Songket itu sendiri.

Tenun Sambas telah ada dan dikenal luas oleh masyarakat baik yang berdomisili di dalam maupun di luar kabupaten Sambas, sejak masa Sultan Sulaiman memerintah kesultanan Sambas. Sultan Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas pada tahun 1675 M dan memerintah selama selama 10 tahun, yaitu sampai tahun 1685, dengan gelar Sultan Muhammad Shahuddin l. Namun, dengan melihat motif-motif tumbuhan (flora) yang sangat dominan pada Tenun Sambas, tenunan ini telah ada sebelum berdirinya Kesultanan Islam Sambas, yaitu ketika di Sambas masih berdiri kerajaan-kerajaan Hindu, maka Tenun Sambas hingga saat ini telah berumur lebih dari 300 tahun.

Keberadaan Tenun Sambas yang mampu melewati rentang waktu tiga abad menunjukkan bahwa tenunan ini mempunyai keistimewaan tertentu yang membuatnya senantiasa dilestarikan. Orang-orang Sambas menggunakan kain tenunan ini sebagai pelengkap pelaksanaan ritual adat, salah satunya adalah upacara adat perkawinan. Pada upacara perkawinan, orang Sambas biasa menggunakan Kain Cual dengan motif bunga yang disebut Bunga Perancak, artinya lambang kesuburan. Kain ini dipakai sebagai sarung, selendang, dan ikat pinggang pada upacara perkawinan tersebut, acara khitanan, maupun sebagai hantaran pada upacara lainnya di Sambas.

Sehari-hari, lelaki Sambas biasa menggunakan sarong kotak-kotak, jika hari penting / upacara tiba, mereka menggunakan sarong dengan motif dari benang emas yang memiliki warna dominan kuning. Warna kuning dahulu diperuntukkan untuk kalangan kesultanan. Dengan digunakannya Tenun Sambas sebagai salah satu pelengkap ritual adat, maka tenunan ini merupakan kegiatan yang berpijak pada norma budaya orang Sambas dalam mengarungi hidupnya, yang berciri khas budaya melayu Sambas dan sebagai aset budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya.

Tenun Sambas merupakan hasil kerajinan tangan yang melibatkan banyak perajin perempuan. Saat ini, sudah jarang generasi muda yang memiliki keterampilan untuk membuat kain tenun Sambas, hanya generasi tualah sebagai perajin kain Sambas yang masih bertahan. Kerajinan tenun, kian hari seolah kian terpuruk dalam pusaran waktu, dan saat ini seakan mati suri.

Memasuki tahun 60-an kerajinan Tenun Sambas mengalami perkembangan, hal ini dapat dilihat dari bertambahnya jumlah perajin tenun songket dan hasil kerajinannya tidak hanya dipakai untuk keperluan sendiri, tetapi mulai banyak diperdagangkan baik di dalam maupun di luar luar kabupaten Sambas. Pada awal tahun 70-an sampai dengan tahun 80’an penjualan kain songket khususnya sabok (untuk pakaian laki-laki) banyak dipasarkan di negeri tetangga Sarawak Malaysia. Tingginya jumlah permintaan kain Sabok dari Sarawak, pada masa itu berdampak luas dengan meningkatnya jumlah perajin tenun songket di Sambas, hampir di setiap rumah penduduk memiliki minimal satu alat tenun gedogan.

Memasuki era tahun 90-an penjualan kain Sabok ke Sarawak mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena menurunnnya jumlah produksi untuk jenis kain Sabok di Sambasi Para perajin songket Sambas banyak pindah bekerja sebagai penenun kain songket di negara Brunei. Para perajin yang masih bertahan sebagai penenun songket di Sambas, merasa bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian seni budaya Sambas yang dimiliki membuat perajin tenun tersebut tetap berkarya di Sambas.

Masyarakat Sambas menggunakan kain tenunan ini sebagai pelengkap pelaksanaan ritual adat, khataman Alqur’an, khitanan, pindah rumah, dan salah satunya adalah upacara adat perkawinan. Dalam upacara perkawinan, kain tenun Sambas digunakan sebagai pelengkap barang antaran atau seserahan dari pihak mempelai Ielaki kepada mempelai perempuan, dan kain cual (celup ikat benang lungsi) dijadikan balasan barang antaran dari mempelai wanita ke pihak mempelai laki-laki yang disebut balas baki. Kaum wanita menggunakan kain dan selendang songket dipadukan dengan baju kebaya pendek sebagai atasannya, dan kain sabok dipakai oleh pria yang dipadu dengan baju dan celana teluk belanga. Pada acara kesenian yang menampilkan tarian yang bernuansa melayu seperti tari tandak Sambas, dan tari Japin, penarinya menggunakan kain songket, dan masih banyak lagi kegiatan yang menggunakan pakaian khas Melayu dengan tenun songket Sambas.

Walaupun Tenun Sambas masih dibuat dengan menggunakan alat tenun gedogan dan peranan utamanya untuk mendukung kegiatan adat istiadat melayu, Tenun Sambas masih dan tetap bertahan di tengah persaingan tren dan mode yang bahannya diolah dengan menggunakan Alat Tenun Mesin (ATM). Tenun ini masih banyak diminati konsumen, dan berkembang juga jenis produk baru seperti hiasan dinding (dalam bentuk kaligrafi atau dengan motif kain), peci, syal atau selendang, dasi, sajadah, serta bahan baju untuk pria dan wanita.

Bila Tenun Sambas terus dikembangkan, maka kerajinan ini dapat menjadi nilai tambah bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan perajin. Kerajinanan Tenun Sambas sangat padat karya, sehingga dapat menyerap tenaga kerja dan sekaligus membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

Tenun Sambas Setelah dibina oleh CTI dan Garuda Indonesia

Sebelum dibina oleh CTI & Garuda Indonesia, banyak masyarakat Sambas bekerja disana di Sarawak dan Brunei, dengan jam kerja 07.00 – 22.00 (istirahat 2 kali) dan pendapatan ±Rp2juta. Karena bekerja hingga malam, akibatnya mata penenun banyak yang menjadi rabun dan saat pulang kampung banyak yang sudah menggunakan kacamata.

Kemudian, sejak tahun 2010 Cita Tenun Indonesia bekerjasama dengan Garuda Indonesia melakukan pembinaan perajin Tenun di daerah Dusun Semberang, Desa Sumber Harapan, Kabupaten Sambas. Sejak saat itu, tenun Sambas kembali dikenal oleh masyarakat luas dan mulai dikenal di ibukota. Banyak para penenun yang awalnya bekerja di Brunei, kembali lagi ke kampungnya untuk menjadi penenun, seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan konsumen.

Related Post

Palembang

Apr 01, 2019

Halaban Sumatera Barat

Feb 05, 2019

Garut

Feb 01, 2019

Sumba Timur

Feb 01, 2019