Garut

Tenun Garut yang juga dikenal dengan kain sutera merupakan hasil produksi dari industri sutera alam. Industri ini telah ada sejak zaman Belanda. Sutera alam Garut merupakan komoditas unggulan karena memiliki kualitas yang sangat baik. Industri sutera alam dapat berkembang di Kabupaten Garut karena beberapa faktor antara lain; beberapa alat tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dan ATM (Alat Tenun Mesin) dapat dibuat sendiri, dan pembudidayaan ulat sutera cukup mendukung.

Industri sutera di Garut menghasilkan varian produk kria benang pintal, kria ikat dan kria tenun dobby semi jacquard. Ciri pengembangan desainnya mengarah pada produk tekstil yang berlatarkan pengalaman dan karakteristik lingkup kondisi yang berlangsung, yakni terstruktur tenun sederhana-madya (teknologi dobby semi jacquard) pada ATBM, dan produk yang dihasilkan berciri kria ikat warna dan tekstur, kria batik, serta kria tenunan. Pada tahun 1967, tenun diproduksi menjadi sarung dengan motif kotak-kotak atau dikenal dengan motif ikat Garut. Kemudian produksinya berkembang menjadi bahan polos putihan untuk bahan dasar pembuatan kain batik.

 

Tenun Garut

Tenun Garut yang juga dikenal dengan kain sutera merupakan hasil produksi dari industri sutera alam. Industri ini telah ada sejak zaman Belanda. Sutera alam Garut merupakan komoditas unggulan karena memiliki kualitas yang sangat baik. Industri sutera alam dapat berkembang di Kabupaten Garut karena beberapa faktor antara lain; beberapa alat tenun ATBM dan ATM dapat dibuat sendiri, dan pembudidayaan ulat sutera cukup mendukung.

Selama ini pengembangan sutera alam nasional dilakukan melalui program-program pada dua departemen yang berbeda, yaitu Depertemen Kehutanan yang menangani sisi perkebunan (budidaya) (on farm) dan Departemen Perindustrian dari sisi industri (off farm). Dari aspek budidaya, sutera alam mengalami pasang surut. Tercatat, pada tahun 1997/1998, Departemen Kehutanan mengucurkan dana Kredit Usaha Tani sebesar 747,9 juta yang diperuntukkan bagi para petani pemasok kokon melalui CV. Aman Sahuri yang melakukan kemitraan budidaya sutera alam di Kabupaten Garut yang melibatkan 222 petani dengan luas lahan 171,7 Ha, meliputi 14 lokasi budidaya.

Sayangnya, saat ini budidaya ulat sutera semakin menurun drastis karena banyak dari petani pemasok kokon sudah tidak berproduksi lagi. Data bulan Desember 2006 yang dikeluarkan Dinas Kehutanan Kapubaten Garut menunjukkan saat ini hanya tinggal 1 lokasi yang masih bertahan yaitu, Desa Wangunjaya dan Desa Mulyajaya di Kecamatan Banjarwangi, dengan luas lahan budidaya 61,6 Ha. Kapasitas produksi kokon kelompok tani ini sebanyak 1.200 kg per tahun, dimana seluruh hasil produksinya dipasok ke industri sutera Koperasi Sutera Sabilulungan III di Tasikmalaya.

Kebutuhan bahan baku untuk industri sutera di Garut sendiri saat ini justru dipasok oleh benang impor Cina. Para pelaku usaha ini mendapatkan bahan baku dari importer benang di Bandung dan Surabaya. Tidak ada yang menggunakan bahan baku lokal (kokon produksi petani lokal) kecuali kokon produksi petani dari Bogor. Karena, menurut para pengusaha harga benang sutera impor jauh lebih murah serta lebih terjamin kontinuitas pasokannya.     

Dari sisi off farm, industri sutera alam Garut mengalami pengembangan volume produksi yang relatif lamban. Tetapi secara kualitatif menghasilkan varian produk kria benang pintal, kria ikat dan kria tenun dobby semi jacquard. Ciri pengembangan desainnya mengarah pada produk tekstil yang berlatarkan pengalaman dan karakteristik lingkup kondisi yang berlangsung, yakni terstruktur tenun sederhana-madya (teknologi dobby semi jacquard) pada ATBM, dan produk yang dihasilkan berciri kria ikat warna dan tekstur, kria batik, serta kria tenunan.

Pelaku usaha yang masih terlibat dalam industri sutera di Garut tidak banyak, hanya sekitar 5 unit usaha. Umumnya lokasi usaha mereka berada di seputar wilayah Garut kota. Pasar dari industri sutera alam Garut selain ekspor, hampir seluruhnya lokal. Umumnya adalah sentra batik seperti Garut, Cirebon, Tasikmalaya, Solo, Yogyakarta serta desainer dari Jakarta dan Bandung. Menurut data, kebutuhan pasar lokal saja sangat besar dan belum tercukupi sehingga Indonesia masih harus mengimpor sutera alam dari Cina.

Related Post

Palembang

Apr 01, 2019

Sambas

Feb 06, 2019

Halaban Sumatera Barat

Feb 05, 2019

Sumba Timur

Feb 01, 2019